Proses Penerimaan peserta Didik Baru (PPDB) yang Adil dan Transparan serta bebas Kecurangan

Proses Penerimaan peserta Didik Baru (PPDB) yang Adil dan Transparan serta bebas Kecurangan. Sebenarnya proses PPDB itu suatu seni, aplikasi nyata dari pelajaran matematika. Semua media sosial dan media massa rame membicarakan tentang PPDB yang kisruh dan penuh masalah. Mulai dari ungkapan kekecewaan calon siswa dan keluarganya hingga kasus pemalsuan dan penipuan data domisili dan SKTM. Semua perbuatan kriminal yang terakhir itu terjadi karena dorongan agar bisa di terima di sekolah pilihan dengan mudah.

Karena, kriteria masuk sekolah zaman sekarang dengan zaman dulu beda. Dulu, asalkan mengantongi nilai tinggi maka bisa di terima di sekolah manapun asalahkan mampu membayar biayanya. Karena itu ada istilah sekolah favorit dan sekolah unggulan.

Sekarang, untuk menghapus dikotomi masyarakat tentang sekolah favorit & non favorit, unggulan & non unggulan, Mendikbud membuat peraturan baru tentang kriteria PPDB, yaitu berdasarkan sistem Zonasi dan SKTM.

Sebenarnya ada 2 point penting dalam Permendikbud yang harus di perhatikan dengan baik dan benar, yaitu:

1. TK / Sekolah yang di selengarakan Pemerintah daerah wajib menerima calon peserta didik dengan domisili di radius Zona terdekat dari sekolah sebanyak 90% dari total keseluruhan siswa.
2. SMA / SMK sederajat harus menerima dan membebaskan biaya pendidikan bagi peserta didik baru yang berasa dari keluarga ekonomi tidak mampu sebesar 20% dari total kuota penerimaan siswa baru.

Point pertama sudah teramat jelas, yaitu calon peserta didik yang domisili di radius zona terdekat sekolah harus di utamakan. Masalahnya, calon siswa yang tinggal di sekitar sekolah pasti tidak sedikit. Jika semua bisa di tampung, tidak apa. Tapi jika melebihi kuota bagaimana? Maka harus di buat peraturan baru oleh masing-masing sekolah dengan acuan permendikbud tanpa menghilangkan tujuan dari bersekolah itu sendiri, yaitu pandai dan mendapat nilai yang bagus.

Karena, bagaimanapun, tidak bisa di pungkiri, bahwa tujuan dari sekolah adalah agar pintar dan beradap. Dan kepintaran di dapat dari disiplin dan rajin belajar. Jika rajin belajar maka nilai ujian akan tinggi. Maka Nilai yang tinggi harus tetap menjadi kriteria.

Bayangkan, kalau masuk sekolah hanya adi dasarkan pada domisi dekat sekolah. Anak-anak akan berpikiran sempit, “nggak usah capek belajar, rumah ku di dekat sekolah, pasti ketrimalah..” Dan yang rumahnya jauh dari sekolah juga akan patah semangat, “belajar capek-capek, tapi susah untuk di terima di sekolah…

Makanya untuk mencegah agar tidak timbul masalah itu, di buatlah skala kriteria. Dengan 3 point penting yaitu, nilai, zonasi dan SKTM.

Oh ya, kalau menurut saya, dari apa yang tertulis di peraturan Permendikbud, SKTM sebenarnya bukan peraturan untuk di terima sekolah, tapi merupakan peraturan untuk pihak sekolah agar memberi kuota 20% dari total kuota PPDB. Jadi tiga point penting harus di jadika kriteria dalam proses PPDB.

Nah, di sinilah seninya mulai terasa kemampuan Matematika mulai diterapkan. Mari kita gunakan soal cerita:

Sekolah X membuka PPDB dengan kuota 100 orang. 20% dari kuota itu calon siswa dengan SKTM. 90% harus berdomisi di sekitar sekolah. Dan 5% siswa berprestasi. 5% dengan alasan khusus yang bisa di pertimbangkan.

Cara penyelesaiannya:
1. Seleksi awal

  •  Semua calon siswa dalam Zona  yang di tetapkan di terima
  • Semua calon siswa yang memiliki SKTM di terima
  • Beberapa calon siswa dari luar zona dan berprestasi di terima

2. Seleksi kedua

  • 5 Calon Siswa di luar Zona dan berprestasi, lulus (Prioritas Prestasi)
  • 5 Calon Sisiwa di luar Zona dengan alasan khusus yang bisa dipertimbangkan
  • 20 Calon Siswa  dalam Zona dan memiliki SKTM serta memiliki nilai yang baik, lulus. (Prioritas SKM)
  • 80 Calon Siswa  dalam zona dengan nilai yang baik, lulus (Nilai)

Mungkin cara PPBD yang kami sarankan di atas, masih bertentangan dengan peraturan mendikbud. Tapi itu perlu di terapkan untuk memacu semangat belajar. Toh kriteria utamanya tentang Zona baru Nilai.  Karena jika kriterianya hanya Zona saja, itu sama saja dengan membunuh semangat belajar siswa.

Dengan sistem PPBD seperti ini, tidak akan ada lagi kekisruhan dan umpatan rasa tidak puas dari calon siswa dan orang tua. Usahakan seleksi berlangsung secara Transparan dan teorganisir dengan baik.