Cara menghitung hari selamatan orang meninggal.
>
Cara menghitung hari selamatan orang meninggal. Sering kali ketika ada yang meninggal, orang-orang pasti akan bertanya,
Jika  meninggal tanggal sekian kapan:
“Kapan 100 harinya?
“Kapan pendak 1 dan pendak 2 nya?
“Kapan Seribu harinya?
Pertanyaan-pertanyaan itu lumrah dalam tradisi jawa, yang sebagian besar masih menjalankan ritual Tahlil selamatan orang meninggal. Tahlil itu sendiri tidak ada dalam ajaran Islam, umat islam lain selain warga NU mengatakan kalu tahlil itu Bid’ah karena tidak ada dalam ajaran islam. Tetapi adalah  tradisi warisan para wali.  Dulu di zaman para wali, tradisi hindu yang di jalankan, tapi begitu agama islam di perkenalkan, tradisi itu di rubah dengan acara pengajian, yang di sebuh tahlilan.
Dulu, selamatan orang meninggal di hitung secara manual, tapi sekarang ada aplikasi yang bisa di gunakan untuk menghitungnya. Anda hanya perlu memasukkan tanggal kematian, maka aplikasi akan memproses semuanya. Hasilnya, anda dengan mudah bisa tahu kapan 100 hari, pendak1, pendak 2 hingga seribu harinya. Tidak percaya? Coba saja sendiri.
Ada dua situs yang saya temui memiliki aplikasi untuk mengitung selamatan orang meninggal. Untuk mengunjunginya, klik saja tautan di bawah ini:
Tapi sekarang, tahlilan banyak di permasalahkan karena tidak ada dalam ajaran islam. Padahal, ketika anda menjadi orang yang ditingalkalkan, 7 hari pertama adalah saat yang paling berat.  Rasa kehilangan itu bisa membuat gila. Dan berkumpulnya keluarga, tetangga dan kenalan sungguh meringgankan kesedihan.  Mungkin  anda belum pernah mengalaminya, jadi tidak tahu rasanya.  lalu ketika banyak yaang mencela tahlilan, saya malah bersyukur ada tradisi tahlilan. Dalam pendapat saya, tahlil adalah mengundang khalayak untuk menemani kita mendoakan almarhum / almarhumah.
Jika anda mau bertanya, kenapa bangsa cina termasyhur di seluruh pelosok dunia? kenapa bangsa India di kenal? Itu karena cina dan India adalah segelintir suku bangsa yang paling teguh memegang tradisi leluhurnya.
“Bangsa yang besar adalah bangsa yang mau melestarikan tradisi leluhurnya,..”
=> selama tradisi itu tidak bertentangan dengan Aqidah dan kerukunan umat beragama, berbangsa dan bernegara
Sebagai satu tradisi yang tidak mengikat, tidak ada paksaan bagi seseorang untuk melakukan Tahlil. Karena niat tahlil itu sendiri adalah bersedekah, yaitu memberi makan banyak orang dan ajang silaturahim antar sesama umat islam. Jadi bukan suatu keharusan. Seperti dalam ajaran islam, bersedekah bagi mereka yang mampu. Tapi sedekah tidak boleh di dapat dari berhutang, apalagi meminta sumbangan. Karena orang yang berhutang dan meminta-minta sumbangan tergolong orang yang kesusahan, mereka tidak boleh bersedekah, tapi malah harus di sedekahi.