Aku bertemu kakek tua itu ketika aku mengunjungi makan ibu. Dia tinggal di gubuk tempat orang meletakan keranda. Setahun sekali setiap lebaran, kami menyempatkan diri untuk pulang kampung. Tapi tahun lalu aku tidak melihat kakek itu. Dengan rasa ingin tahu kami menyapanya dan bersilahturahim dengannya.

Kakek itu bertanya makan siapa yang kami kunjungi karena dia mengaku mengenal siapa saja yang di makamkan di komplek itu, “itu adalah makan si Fulan bin Fulan, temanku saat di pondok dulu…” Aku mengatakan kalau aku mengunjungi makan ibuku yang adalah anak si fulan itu. Si kakek menatapku, “si Fulan hanya punya satu anak perempuan.. yang meninggal saat melahirkan.” Aku menjawab kalau aku adalah anak yang di lahirkan itu. Si kakek tua itu menatapku dengan mata tuanya yang tiba-tiba basah.

 
Lalu dia bercerita kalau dia pernah menggendong aku saat masih bayi. Rumahnya bersebelahan dengan rumah kakekku yang dulu. Aku terkejut, karena rumah yang ada di sebelah rumah keluargaaku dulu adalah rumah mewah yang di huni oleh keluarga kaya.

Si kakek mengangguk, “yang tinggal di rumah itu anak sulungku..” Suamiku merasa heran, kalau anaknya begitu kaya, mengapa kakek itu tinggal di gubuk reot ini?

Si kakek bercerita kalau dulu hartanya melimpah. Dia hanya punya 3 orang anak, lelaki semua. Karena merasa sudah uzur, maka sebelum meninggalkan dunia yang fana ini, dia ingin membagi-bagikan harta itu secara adil pada ketiga anaknya agar mereka tidak bersengketa. Anak-anaknya setuju. Mereka ingin semua harta di bagi rata. Setelah pembagian harta selesai, anak-anaknya sepakat untuk mengurus ayah mereka secara bergantian. Tapi itu tidak berlangsung lama. Karena lalu anak-anaknya merasa terbebani dan saling tunjuk dengan siapa ayah mereka tinggal. Si kakek menyadari penolakan anak-anaknya itu dan terpaksa mencari tempat tinggalnya sendiri. Lali dia merasa damai tinggal di gubuk di tepi kuburan ini. Untuk meneruskan hidupnya, dia mendapat sedekah ala kadarnya dari mereka yang mengunjungi makam.

Lalu suamiku mengajak kakek tua itu ke rumah kami. Awalnya si kakek menolak. Tapi setelah dibujuk, beliau bersedia ikut. Kami meminta bibi yang menjaga rumah kami agar menjaga dan mengurus keperluan si kakek. Karena kami harus segera kembali ke pulau. Setiap bulan suami ku berjanji akan mengirim uang ekstra untuk keperluan si kakek. Si bibi setuju dan tidak merasa keberatan.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Setiap ada kesempatan si bibi akan menelpon untuk memberi kabar tentang si kakek. Bibi bercerita kalau setiap hari si kakek menghabiskan waktunya untuk ibadah dan mengaji di Mushola samping rumah. Dia hanya pulang saat di panggil untuk makan.

Dan kemarin, bibi menelpon kalau si kakek telah tiada. Dia meninggal selesai menunaikan sholat subuh. Dan jenazahnya di bawah pulang kerumah anaknya yang kaya itu. Kami merasa sedih, tapi tak bisa berbuat banyak selain mengirimkan ucapan bela sungkawa dan semoga amal ibadah beliau di terima oleh Allah SWT… @MeyshaLestari.