Jabat Tangan dan Cium tangan dalam Islam.  Mungkin sudah kebiasaan, kalau kita bertemu seseorang kita akan berjabat tangan dan pada orang yang lebih tua, kita mencium tangan mereka sebagai tanda hormat. Tahukah anda bahwa berjabat tangan (Mushofahah) dalam Islam hukumnya Sunnah?

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمَيْنِ يَلْتَقِيَانِ فَيَتَصَافَحَانِ إِلَّا غُفِرَ لَهُمَا قَبْلَ أَنْ يَفْتَرِقَا

Artinya: “Tidaklah dua orang muslim yang bertemu kemudian saling bersalaman melainkan dosa keduanya akan diampunkan (oleh Allah) sebelum ia berpisah.” (Musnad Ahmad, no. 18547. Sunan Abu Daud, no. 5212. Sunan at-Tirmidzi, no. 2727. Sunan Ibnu Majah, no. 3693. Dinilai sahih oleh al-Albani dan Syu’aib al-Arnauth)

Biasanya kita berjabat tangan karena 3 hal, yaitu:
  1. Berjabat tangan untuk meminta maaf atas kesalahannya. 
  2. Berjabat tangan sebagai tanda pertemanan dan persahabatan serta perdamaian.
  3. Berjabat tangan karena kedua belah pihak telah lama tak berjumpa. 
  4. Berjabat tangan untuk mempererat silaturahim.
Islam menyerukan pentingnya berjabat tangan. Karena berjabat tangan memiliki faedah, diantaranya:
  1. Terampuni dosa-dosanya (sesuai dengan hadis di atas)
  2. Hilangkan dengki, iri hati dan benci, 
  3. Ciri orang yang hatinya lembut

Yang patut diketahui adalah tidak semua jabat tangan adalah Sunnah hukumnya. Jabat tangan dengan lawan jenis yang bukan Muhrim, hukumnya haram.

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu riwayat Bukhary-Muslim, Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam menegaskan :

إِنَّ اللهَ كَتَبَ عَلَى ابْنِ آدَمَ نَصِيْبَهُ مِنَ الزَّنَى مُدْرِكٌ ذَلِكَ لاَ مَحَالَةَ فَالْعَيْنَانِ زَنَاهُمَا النَّظَرُ وَالْأُذَنَانِ زِنَاهُمَا الْإِسْتِمَاعُ وَاللِّسَانُ زِنَاهُ الْكَلاَمُ وَالْيَدُ زِنَاهَا الْبَطْشُ وَالرِّجْلُ زِنَاهَا الْخُطَا وَالْقَلْبُ يَهْوَى وَيَتَمَنَّى وَيُصَدِّقُ ذَلِكَ الْفَرْجُ وَيُكَذِّبُهُ

Artinya: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan bagi setiap anak Adam bagiannya dari zina, ia mengalami hal tersebut secara pasti. Mata zinanya adalah memandang, kedua telinga zananya adalah mendengar, lisan zinanya adalah berbicara, tangan zinanya adalah memegang dan kaki zinanya adalah berjalan dan hati berhasrat dan berangan-angan dan hal tersebut dibenarkan oleh kemaluan atau didustakan”.

Sedangkan CIUM TANGAN dalam Islam ada pro dan Kontranya.  Imam al-Qurthubi mengatakan:

وَإِذَا سَلَّمَ فَإِنَّهُ لَا يَنْحَنِي، وَلَا أَنْ يُقَبِّلَ مَعَ السَّلَامِ يَدَهُ، وَلِأَنَّ الِانْحِنَاءَ عَلَى مَعْنَى التَّوَاضُعِ لَا يَنْبَغِي إِلَّا لِلَّهِ. وَأَمَّا تَقْبِيلُ الْيَدِ فَإِنَّهُ مِنْ فِعْلِ الْأَعَاجِمِ، وَلَا يُتَّبَعُونَ عَلَى أَفْعَالِهِمُ الَّتِي أَحْدَثُوهَا تَعْظِيمًا مِنْهُمْ لِكُبَرَائِهِمْ

Artinya: “Tidak boleh bersalaman (atau menghulur tangan) diiringi dengan membongkokkan badan dan mencium tangan. Membongkokkan badan dalam maksud atau tujuan kerendahan hati hanya boleh ditujukan kepada Allah (Subhanahu wa Ta’ala). Adapun mencium tangan, itu adalah perbuatan orang-orang ajam (selain ‘Arab) yang dilakukan dengan maksud memuliakan orang-orang tuanya.” (Tafsir al-Qurthubi, 9/266)

Untuk orang Indonesia, cium tangan merupakan wujud penghormatan kita pada orang yang lebih tua. Namun di negara lain, ciuman ini juga berarti sebuah penghargaan dan kekaguman.

An Nawawi mengatakan: “Mencium tangan seseorang karena sifat zuhudnya, salehnya, amalnya, mulianya, sikapnya dalam menjaga diri dari dosa, atau sifat keagamaan yang lainnya adalah satu hal yang tidak makruh. Bahkan dianjurkan. Akan tetapi jika mencium tangan karena kayanya, kekuatannya, atau kedudukan dunianya adalah satu hal yang makruh dan sangat di benci. Bahkan Abu Sa’id Al Mutawalli mengatakan: “Tidak boleh” (Fathul Bari,11/57)

Adapun dalil yang digunakan oleh ulama para ulama untuk mmebolehkan cium tangan, antara lain adalah: 

  • HR. AL Baihaqi :  tentang Abu Lubabah & Ka’ab bin Malik, serta dua sahabat lainnya (yang diboikot karena tidak mengikuti perang tabuk) mencium tangan Nabi Shallallhu ‘alaihi wa Sallam ketika taubat mereka diterima oleh Allah.
  • HR. SUfyan:  tentang Abu Ubaidah mencium tangan Umar ketika datang dari Syam.
  • HR. At Thabari: tentang Zaid bin Tsabit mencium tangan Ibn Abbas ketika Ibn Abbas menyiapkan tunggangannya Zaid.
  • HR. Ibn Al Maqri: Usamah bin Syarik mengatakan, “Kami menyambut Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan kami mencium tangannya.”

CIUM TANGAN hukumnya makruh jika:
  1. Menjadi kebiasaan, seperti sengaja mengulurkan tangan agar di cium karena ini sudah berbau paksaan.  Mencium tangan adalah karena rasa hormat, jika ada rasa hormat, maka orang dengan sukarela akan mencium tangan.  Dasarnya, kerana para sahabat Nabi sendiri tidak biasa mencium tangan Nabi.
  2. Jika menjadikan orang yang dicium tangannya tersebut riya’, sombong, dan merasa lebih baik dari yang lain.
  3. Jika menghilangkan sunnah bersalaman tangan sebagaimana biasa yang dianjurkan oleh Sunnah Rasulullah. (Rujuk Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah, 1/159)