Dalam buku 30 Kisah Teladan jilid 2 karya KH. Abdurrahman Arroisi, disebutkan bahwa menurut Nabi Muhammad SAW, ada empat golongan yang ibadah hajinya tidak di terima oleh Allah SWT, yaitu:
  1. Orang kaya yang berangkat ke tanah suci untuk bertamasya,
  2. Kaum menengah yang tujuannya mau berdagang,
  3. Cendekiawan, orang terpelajar dan orang besar yang niatnya hanya agar ingin di dengar dan di lihat orang, dan
  4. Orang miskin yang berniat mau meminta-minta agar jadi kaya.

Banyak contoh bagaimana Allah menolak Amal seorang hamba karena niatnya. Salah satunya di ceritakan dalam kisah teladanberikut ini, tentang seorang hartwan yang pergi haji bersama ke 2 istrinya.

Konon katanya, ada seorang hartawan yang membawa kedua istrinya pergi haji. Nama kedua istrinya adalah Azizah (istri pertama) dan Hasanah (istri kedua).  Sebelum pergi haji, si Hartawan tidak mau pergi manasik haji ataupun belajar cara-cara melakukan ibadah haji, karena menurutnya itu sia-sia dan lagi di kampungnya dia terkenal tidak pernah sembahyang. Hingga begitu sampai di Mekah, di apun kebingungan, tak tahu haus berbuat apa.

Pada waktu Thawaf mengitari Ka’bah dia tidak tahu apa yang harus di kerjakan dan di baca. Untung ia sempat di beritahu oleh seorang kawannya, bahwa selama melakukan Thawaf ia cukup membaca doa  sapujagat yang terkenal itu. Yang bunyinya:


رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

RABBANAA AATINAA FIDDUN YAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH, WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR.
Artinya :
Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan hidup di dunia dan kebaikan hidup di akhirat, dan jagalah kami dari siksa api neraka.

Si hartawan sangat gembira, karena kebetulan dia sudah hafal lantaran sering didengarnya di baca oleh orang-orang kampung. Tapi dia hanya hafal bagian 2/3 nya yang 1/3 akhir yaitu bagian “WAQINAA ‘ADZAA BAN NAAR” dia tidak hafal.  Tapi dari pada malu karena tidak membaca apa-apa, maka dia membaca yang dia ingat saja, yaitu “RABBANAA AATINAA FIDDUN YAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI HASANAH”.

Maka dengan penuh kasih sayang, di gandenglah kedua istrinya itu untuk melakukan Thawaf. Kedua istrinya juga bukan orang pinter, mereka juga tidak malas sembahya dan pergi pengajian saat di kampung, jadi tidak bisa mengucapkan sepotong doapun, apalagi tau artinya.  Maka tatkala sduah tiga kali si suami mengelilingi Ka’bah dengan membaca doa yang di dalamnya selalu di ulang-ulang kata “hasanah”, si istri muda melirik dengan bangga pada si istri tua, karena dia menyangka suaminya sedang menyebut namanya terus menerus sebagai luapan rasa cinta yang sangat besar padanya.

Sementara si sitri tua, sangat cemburu, hatinya panas dan nyaris meledak, karena di kiranya si suami hanya ingat pada “hasanah” si istri muda yang masih kinyis-kinyis dan cantik. Karena tidak bisa menahan emosi, si istri tua segera menyodok perut suaminya hingga dia mengaduh kesakitan. Si suami memekik, “mengapa kau sikut aku? Sakit, tahu!” Si istri tua protes, “habis dari tadi yang di sebut-sebut Hasanah melulu, mentang-mentang dia masih muda dan cantik. Aku sekalipun tidak pernah kau panggil. memangnya aku bukan istrimu?”

Hartawan itu sadar akan kesalahannya dan cepatc-epat minta maaf, “maaf, aku khilaf.” lalu untuk putaran Thawaf selanjutnya dia mengubah doanya dengan kalimat yang sangat bijak menurutnya , yaitu “RABBANAA AATINAA FIDDUN YAA HASANAH, WA FIL AAKHIRATI AZIZAH.” Si istri tua sangat lega dan gembira. Dia puas namanya telah di sebut-sebut si suami.

Namun apa hendak di kata, pada putaran ke enam, tiba-tiba ketiga suami istri itu di tangkap oleh pihak yang berwajib dengan tuduhan, “menghina ayat Al Quran”. Mereka di hukum berat sesuai dengan hukum yang berlaku di Arab Saudi untuk para penista Agama. Akhirnya ketika Pulang ke kampung, mereka tidak menjadi haji yang Mabrur tapi malam babak belur.

Itulah gambaran bahwa harta bisa menjadi petaka kalau tidak di dampingi oleh ilmu pengetahuan yang berguna.